Jan 26
GMPLS belum terlalu banyak dikaji dalam wacana telekomunikasi nasional. Padahal GMPLS akan menyangkut perubahan mendasar dalam pengelolaan sistem transmisi optik (yang merupakan sistem transmisi mayoritas) dalam dunia telekomunikasi. Standardisasi GMPLS sendiri telah mulai disusun, dengan diterbitkannya usulan standar dan informasi-informasi dalam bentuk RFC oleh IETF, diantaranya:
- RFC-3471 Generalized Multi-Protocol Label Switching (GMPLS) Signaling Functional Description. L. Berger, Ed.
- RFC-3472 Generalized Multi-Protocol Label Switching (GMPLS) Signaling Constraint-based Routed Label Distribution Protocol (CR-LDP) Extensions. P. Ashwood-Smith, Ed., L. Berger, Ed.
- RFC-3473 Generalized Multi-Protocol Label Switching (GMPLS) Signaling Resource ReserVation Protocol-Traffic Engineering (RSVP-TE) Extensions. L. Berger, Ed.
- RFC-3474 Documentation of IANA assignments for Generalized MultiProtocol Label Switching (GMPLS) Resource Reservation Protocol – Traffic Engineering (RSVP-TE) Usage and Extensions for Automatically Switched Optical Network (ASON). Z. Lin, D. Pendarakis.
Jan 21
Intel melengkapi teknologi mobilitas Centrino dengan komponen akses jaringan nirkabel Intel PRO/Wireless 2200BG yang berstandar wireless-fidelity (Wi-Fi) 802.11b dan 802.11g. Siaran pers Intel memaparkan tentang PRO/Wireless 2200BG sebagai peranti WLAN dengan kecepatan transfer data hingga 54 Mbps. Intel PRO/Wireless 2200BG terdiri dari chip radio dan komunikasi, yang di fasilitas jaringan nirkabel Intel di Haifa, Israel dan San Diego. Komponen ini juga mendukung standard keamanan seperti Wi-Fi Protected Access (WPA).
Koneksi jaringan Intel PRO/Wireless 2200BG akan menjadi bagian dalam PC notebook berbasis Intel Centrino, yang akan hadir di pasar pada kuartal pertama tahun ini. Sementara ini, harga koneksi jaringan Intel PRO/Wireless 2200BG adalah US$25/unit untuk setiap pembelian 10.000 unit.
Jan 15
Indonesia Internet Exchange node ketiga (IIX-3) telah diresmikan hari ini. IIX-3 ini mempunyai kemampuan interkoneksi berkapasitas Gigabit, lebih besar dari dua IIX sebelumnya. Untuk menghubungkan diri ke IIX-3, anggota APJII dapat memanfaatkan fasilitas serat optik, leased line, maupun nirkabel.
Dalam sambutannya, Dirjen Postel Djamhari Sirat menyatakan bahwa pemerintah telah memberikan lisensi NAP (Network Access Point) ke sektor swasta. Pemilik lisensi NAP dimungkinkan membuka jalur akses Internet ke luar negeri untuk digunakan PJI (Penyelenggara Jasa Internet) di Indonesia.
Di Jakarta terdapat tiga titik IIX, IIX-1 di Jl Gatot Subroto, IIX-2 di Gedung Cyber, Mampang dan IIX-3 di bilangan Kuningan. Menurut Sekjen APJII Heru Nugroho, banyaknya IIX di Jakarta ini dikarenakan 70 persen lalu lintas internet di Indonesia berada di Jakarta.
Hingga saat ini sudah ada enam PJI yang terhubung ke IIX-3. Sedangkan hingga akhir 2003 terdapat 80 PJI yang terhubung ke IIX. APJII mengeluarkan pernyataan, antara lain bahwa dari trafik sebesar 1,2 Gb/s (Desember 2003) akan dapat dihemat biaya lebih kurang sebesar US$ 7,2 juta per bulan.
Jan 14
Kelemahan pada protokol transmisi data audio-visual pada H.323 berpotensi mengundang serangan denial-of-service (DoS) dan buffer overflow pada pada jaringan VoIP. Demikian diungkapkan NISCC di website: http://www.uniras.gov.uk/vuls/2004/006489/h323.htm.
Bila diekspolitasi, kelemahan ini membuka celah bagi penyusup menciptakan kondisi DoS. Penyusup juga dimungkinkan mengeksekusi kode-kode tertentu akibat buffer overflow.
NISCC menyarankan pengguna jaringan dan peranti multimedia untuk segera mengambil sejumlah langkah antisipasi yang direkomendasikan masing-masing vendor guna menutup celah keamanan tersebut. Beberapa vendor yang diketahui menggunakan protokol H.323 pada produknya antara lain Cisco, Microsoft, Hewlett-Packard, Avaya, Nortel, dan Lucent.
Website Cisco (http://www.cisco.com/warp/public/707/cisco-sa-20040113-h323.shtml) menyampaikan bahwa semua produk yang menjalankan Cisco IOS terkena dampaknya. Termasuk di dalamnya adalah software untuk SIP dan MGCP, karena software itu dirancang untuk mendukung H.323 juga.
Jan 09
IEEE telah mulai mengembangkan standar yang akan meningkatkan daya guna throughput pada WLAN untuk mencapat setidaknya 100 Mb/s. Throughput ini tiga kali lebih besar daripada kecepatan WLAN standar IEEE 802 yang ada saat ini, yang masih mencapai 30 Mb/s.
Standar baru ini dinamai IEEE P802.11n, dengan judul «Wireles LAN Medium Access Control (MAC) and Physical Layer (PHY) Specifications: Enhancements for Higher Effective Throughput», ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bandwidth baik di level enterprise, network rumahan, sampai hotspot WLAN.
Bagi perusahaan, kecepatan seperti ini membuat WLAN tak berbeda dengan Ethernet yang rata-rata digelar pada rate 100 Mb/s juga. Jadi tidak ada hambatan lagi dalam penggunaan aplikasi-aplikasi perkantoran yang ada saat ini, dengan infrastruktur WLAN. Sementara di rumah2, WLAN dengan kecepatan tinggi dapat digunakan untuk video digital. Bagi WLAN di area publik, meningkatnya bandwidth memungkinkan penampungan jumlah user yang dapat terkoneksi pada sebuat hotspot, sampai setidaknya dua kali lipat.
“Beberapa tahun lalu, kecepatan WLAN 100 Mb/s ini memang dianggap tidak mungkin,” kata Stuart J. Kerry, ketua IEEE 802.11 Working Group. “Namun keberhasilan WLAN IEEE 802.11 WLAN dan sejumlah perkembangan teknologi telah memungkinkan throughput yang lebih besar seperti ini. Pengembangan ini meliputi kinerja frekuensi radio yang lebih baik, dan teknologi mikroprosesor yang berbasis teknologi CMOS tingkat lanjut.”
Kecepatan yang didefinisikan dalam IEEE P802.11n akan berbeda dengan standar IEEE 802 lainnya, seperti misalnya IEEE 802.11g. Standar ini lebih ditujukan pada peningkatan keefektifan throughput pada interface MAC, alih-alih pada kecepatan persinyalan di layer PHY layer.
Jan 08
Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) memprediksi jumlah pelanggan seluler nasional tahun 2004 bisa mencapai 24-27 juta pelanggan. Dengan demikian naik 45,9 persen dibanding tahun 2003. Pelanggan seluler nasional yang memakai teknologi GSM maupun CDMA itu akan dilayani oleh operator Telkomsel, Indosat, Exelcomindo, Lippo Telecom dan Mobile-8. Demikian diungkapkan oleh Ketua Umum ATSI Johny Swandi Sjam, seperti yang dicatat detikinet.com. Menurut catatan, hingga akhir tahun 2003 jumlah pelanggan seluler nasional sebesar 18,5 juta. Sedangkan tahun 2002 sebesar 11,3 juta pelanggan.
Menurut Johny, jumlah pelanggan seluler tahun 2004 bisa naik sebesar 45,9 persen dengan asumsi kondisi ekonomi tahun 2003 sama dengan tahun 2004. “Secara makro ekonomi lumayan bagus sama seperti tahun lalu bahkan bisa lebih baik, apalagi ada Pemilu yang membuat penggunaan telekomunikasi meningkat,” kata Johny. Secara mikro, kondisi internal perusahaan telekomunikasi saat ini juga lebih baik, setelah pada tahun 2003 banyak yang melakukan refinancing. “Restrukturisasi utang dari operator banyak yang sudah selesai sehingga mereka akan fokus meningkatkan pelanggan,” katanya.
Namun demikian, lanjut Johny, semakin banyak jumlah pelanggan maka akan membuat tingkat belanja pulsa pelanggan per bulan (ARPU/Average Revenue Per User) biasanya akan menurun, karena berbanding terbalik. “Kemungkinan ARPU nasional turun antara 0-5 persen untuk tahun ini,” katanya.
Jan 07
Jumlah pengguna pelayanan multimedia service (MMS) di Asia-Pasifik akan tumbuh dengan lebih dari 50 persen pada 2004, namun short messaging service (SMS) tetap nomor satu. Dibutuhkan waktu dua tahun lagi bagi MMS untuk menarik perhatian pengguna, sebuah laporan industri menyatakan hari ini.
MMS, dengan fitur seperti citra dan suara, lebih kaya isi ketimbang fungsi teks SMS. Akan tetapi kelompok riset teknologi informasi IDC menyatakan pertumbuhan MMS terhambat oleh masalah harga yang lebih mahal dan interoperabilitas–problem yang sama yang dihadapi SMS ketika pertama kali diperkenalkan.
Persepsi pengguna dan adanya kamera terpasang pada ponsel akan menjadi kunci bagi keberhasilan MMS, kata direktur regional bagi riset nirkabel IDC Davina Yeo.
Sementara jumlah pemakai MMS terus bertambah setiap kuartal, akan perlu waktu dua tahun lagi bagi teknologi MMS untuk mencapai daya penarik massal, ujarnya. Tahun lalu pengguna MMS hanya 2,3% dari seluruh pelanggan telpon nirkabel di Asia pasifik dan jumlah itu diperkirakan akan meningkat menjadi 4,3% pada akhir tahun ini.
Jan 06
Trafik internet domestik di Indonesia pada awal tahun 2004 ini mengalami kenaikan dua kali lipat dibanding tahun lalu, yaitu dengan menembus angka 1,2 Gbps. Demikian disampaikan Heru Nugroho, Sekjen APJII pada detikcom, hari ini. Data tersebut didapatkan APJII dari hasil pencatatan yang dilakukan di IIX, yang merupakan pemantauan dari trafik IP antar berbagai ISP yang berada di IIX. Pada Maret 2003, trafik IIX tercatat sebesar 620 Mb/s.
Kenaikan ini diindikasikan akibat jumlah pengguna internet di Indonesia yang makin bertambah, serta adanya peningkatan kualitas penggunaan internet di Indonesia. Misalnya, dari yang semula untuk e-mail, sekarang sudah sering digunakan untuk berbagai macam aktivitas. Perusahaan-perusahaan yang sebelumnya hanya masih memakai narrowband, sekarang sudah mulai menggunakan broadband. Internet lebih banyak digunakan untuk transfer data yang lebih daripada sekedar e-mail.
Di luar data IIX, masih ada trafik lain yang belum tercatat, yaitu data hubungan langsung antar ISP. Heru Nugroho juga memperkirakan bahwa trafik internet di jalur internasional dari dan ke Indonesia minimal 1 Gb/s. Data pertumbuhan trafik internet domestik di Indonesia adalah sebagai berikut:
- 1999 (Feb): 2 Mbps
- 2000 (Jan): 3 Mbps
- 2001 (Mei): 40 Mbps
- 2002 (Mar): 245 Mbps
- 2003 (Mar): 620 Mbps
- 2004 (Jan): 1200 Gbps
Jan 05
Selain Megaco yang telah diamandemen dengan RFC-3525 menjadi GCP versi 1, IETF juga telah mengamandemen atau melengkapi beberapa RFC yang berkaitan dengan skema penghantaran multimedia over IP.
RTP (real-time transport protocol), yang meliputi juga RTCP (real-time transport control protocol) diamandemen dengan RFC-3550 yang menggantikan RFC-1889.
SIP (session initiation protocol) diamandemen dengan RFC-3261 menggantikan RFC-2543. Selain itu, telah ditambahkan juga beberapa catatan praktek yang merupakan implementasi SIP ini, termasuk RFC-3665 untuk contoh panggilan dasar SIP, dan RFC-3666 untuk aliran panggilan dari SIP ke PSTN.
Jan 04
Survei Nielsen/NetRating, seperti yang dibaca dari detikinet.com, menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan: 76% pengakses internet bukan pengguna browser, melainkan aplikasi lain seperti media player, file sharing, ataupun instant messenger.
Survey diumumkan pada Desember 2003, menunjukkan sebanyak 106 Juta pengguna internet di Amerika Serikat lebih suka menggunakan media player dan instant messenger di Internet. Hal ini kebalikan dari anggapan selama ini bahwa browser adalah aplikasi paling populer untuk mengakses internet.
Aplikasi non-browser yang dapat terhubung ke Internet memang semakin banyak dan menanjak popularitasnya. Sebagai contoh adalah aplikasi berbagi file (P2P/peer to peer) seperti KaZaa. Piranti lunak yang mampu memutar musik dan video (media player) secara langsung dari sumbernya di Internet juga semakin populer.
Yang tidak kalah menarik adalah aplikasi instant messenger, yaitu aplikasi yang memungkinkan perbincangan langsung antar pengguna internet. Spekulasinya, e-mail akan semakin tergantikan oleh aplikasi ini.
Aplikasi non-browser paling favorit masih dipegang oleh Microsoft, lewat Windows Media Player-nya (34%), sedang dibelakangnya menyusul AOL IM (20%), Yahoo! Messenger (20%), MSN Messenger (19%) dan Real Player (12%). Pengguna internet disebutkan menghabiskan rata-rata 3,5 jam per bulan untuk mengakses internet dengan piranti tersebut.
Abha Bhagat, analis senior Nielsen/NetRating berkomentar: “Jadi semakin sulit membedakan apa yang berada di komputer Anda dan apa yang berasal dari Internet.”