Jun 29

Minggu lalu, Cisco menyatakan tidak berminat bergabung dengan prakarsa Infranet yang dipelopori Juniper. Penolakan itu tidak dinyatakan secara langsung, tetapi dengan membuat pernyataan bahwa Cisco tidak melihat adanya nilai dari proyek itu.

Juniper sendiri menyatakan bahwa Infranet telah didukung antara lain oleh British Telecom, Deutsche Telekom, Lucent, Hewlett-Packard, America Online, Ericsson, Siemens, Oracle, Polycom, NTT, China Unicom, Orange, Qwest, dan Telenor.

Tony Fisch, juru bicara Infranet group, menyatakan bahwa sebuah pertemuan formal telah diadakan untuk mulai mendefinisikan arsitektur dasar untuk pengembangan dua standar interface baru Infranet, yaitu untuk hubungan client-to-network dan untuk hubungan carrier-to-carrier bagi pengembangan layanan telekomunikasi tingkat lanjut.

Infranet sendiri diprakarsai Juniper akhir 2003, untuk membentuk jaringan Internet yang bukan saja baik di sisi konektivitas dan bandwidth, tetapi juga aman, andal, dan berperforma tinggi. Saat ini skema QoS dengan MPLS sudah diterapkan di Internet, tetapi umumnya untuk network milik sebuah carrier saja. Jika trafik mengalir antar carrier, belum tentu ada jaminan kualitas. Maka dirancanglah Infranet untuk mengatur performansi dan keamanan trafik antar carrier itu dengan aplikasi berbasis web. Internet diharapkan akan jadi seaman dan sehandal VPN.

Jun 24

Dr. Mohammad S. Shakouri, ketua kelompok marketing WiMAX Forum, khawatir bahwa WiMAX jadi overhype. “Ini terjad karena pasar keburu sangat berminat sebelum teknologinya siap,” katanya. “Bisa jadi seperti Bluettooth, yang teknologinya bagus, tapi harapan masyarakatnya kelewat tinggi, sehingga akhirnya banyak yang kecewa.”

WiMAX Forum didirikan untuk mempromosikan berbagai standar IEEE 802.16. Ada 100 anggota di dalamnya, termasuk Intel, Alcatel, Fujitsu, AT&T, BT, dan France Telecom. Terakhir, Motorola juga bergabung. Diharapkan perusahaan seperti Samsung, Lucent, dan Nortel akan segera bergabung.

Ada dua milestone yang diharapkan, yaitu saat standar-standar memperoleh approval, dan saat produk-produk siap dipasarkan.

Standar semula adalah 802.16a yang digunakan untuk fixed broadband wireless, dan telah dipublikasikan awal 2004 ini. Standar berikutnya adalah “d” and “e” — yang masing-masing berisi feature portabilitas dan mobile. Standar 802.16d standard telah diapprove dan siap dipublikasikan pertengahan Juli. Standar 802.16e diharapkan akan diapprove pada akhir triwulan 1 tahun 2005, dan dipublikasikan pertengahan 2005.

Untuk produk sendiri, Forum mengharapkan proses sertifikasi sudah dimulai pertengahan 2005. Sementara ini beberapa produsen telah mulai mengembangkan produk-produk “Pre-WiMAX”, yang sudah dapat dipakai untuk melakukan trial untuk meningkatkan keahlian dan kesiapan mengadopsi WiMAX. Pasar produk seperti ini dikuasai Eropa, khususnya oleh British Telecom and France Telecom. Negara-negara Asia diharapkan segera menyusul.

Jun 21

Intel dan Proxim bersepakat untuk bersama-sama mengembangkan produk broadband berbasis WiMax. Proxim akan menyediakan bagian dari teknologi inti ke dalam chipset Intel, baik di sisi base station (BS) maupun di subscriber access point.

Produk pertama akan sesuai dengan standar IEEE 802.16a revisi d, untuk fixed access, yang meliputi BS maupun receiver yang merupakan CPE. BS berupa Proxim Tsunami MP.16 kan dipasarkan baik kepada operator telekomunikasi maupun kepada perusahaan pemakai. Produk berikutnya diharapkan menggunakan IEEE 802.16e untuk mobile access.

Bagian utama dari kesepakatan adalah kerjasama desain untuk BS dan CPE itu, untuk mendorong agar WiMax dapat sesukses Wi-Fi. WiMax sendiri diharapkan memiliki laju data 70 Mb/detik dalam rentang 50 km, sangat menarik untuk digunakan dengan laptop yang mobile.

Jun 02

Motorola menawarkan teknologi untuk mengkoneksikan jaringan GPRS, CDMA 2000 1x dan Wi-Fi dalam layanan Push-to-Talk over Cellular (PoC).

Murali Arayamudan, VP dan GM Motorola Global Telecom Solutions Sector, menjelaskan: lintas teknologi tersebut dimungkinkan melalui Motorola IP Multimedia Subsystem (IMS) yang bisa ditingkatkan menjadi push-to-video. “Teknologi ini dibangun di atas standar terbuka yang sudah ada, sekaligus memberdayakan para ahli softswitch dan menggunakan elemen IP networking dalam meranacang solusi lintas teknologi PoC,” tuturnya melalui pernyataan tertulis.

Dia memaparkan beberapa manfaat dari lintas teknologi ini antara lain memungkinkan operator dari jaringan yang berbeda tetap terhubung hanya dengan menekan satu tombol, memperluas perjanjian interkoneksi dan jangkauan roaming.
Solusi lintas teknologi yang mengikuti standar Open Mobile Alliance (OMA) ini juga sesuai untuk digunakan dalam jaringan Wi-Fi perusahaan karena jangkauan roaming PoC dapat diperluas ke wilayahnya.

Penawaran PoC Motorola menggabungkan beberapa teknologi berbasis IP termasuk GPRS, CDMA2000 1X, IEEE 802.11, EDGE, high speed packet downlink access (HSDPA), wideband CDMA, UMTS, dan 802.16 WiMAX.