Nov 15
Kompas: Bluetooth Special Interest Group (SIG) kemarin memperkenalkan pengadopsian Bluetooth core spec. v2.0 - yang diyakini bisa meningkatkan kecepatan transfer data. Demikian diberitakan MobileMag, Selasa (9/11).
Dengan Bluetooth 2.0, kecepatan rata-rata transfer data melalui jaringan wireless Bluetooth diharapkan bisa meningkat tiga kali lipat dibanding versi 1.0. Meski demikian, standar baru tersebut tak bisa meningkatkan jarak jangkau peranti Bluetooth. Secara khusus, Bluetooth 2.0 memungkinkan peranti untuk mengirim data berukuran besar dengan konsumsi power lebih hemat 50 persen dibanding standar Bluetooth 1.0. Standar baru tersebut juga kompatibel dengan peranti yang masih memakai Bluetooth model awal.
Fitur utama Bluetooth Core Specification versi 2.0 adalah:
- Kecepatan transmisi datanya tiga kali lebih cepat dibanding versi awal, bahkan bisa mencapai 10 kali lebih cepat pada kasus tertentu.
- Konsumsi power cukup kecil
- Bisa dihubungkan dengan beragam peranti sekaligus
- Kompatibel dengan versi Bluetooth 1.0
- Meningkatkan performa BER (Bit Error Rate)
Nov 09
Detik-Inet: Telkom berencana untuk menjadikan Telkom Flexi sebagai layanan telekomunikasi generasi ketiga (3G). Layanan nirkabel berbasis CDMA itu dianggap menyimpan kemampuan broadband. Hal itu dikemukakan Suryatin Setiawan, Direktur Jasa Telkom, seusai penandatanganan kerjasama Telkom dengan Microsoft. “Teknologi CDMA 2000-1x yang dipakai Flexi, tinggal satu langkah lagi untuk layanan seperti 3G,” ujarnya di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (08/11/2004). Menurut Suryatin hal itu akan dilakukan Telkom dalam waktu satu atau dua tahun ke depan. “Layanan ini punya kapasitas intrinsik untuk menjadi broadband,” Suryatin menambahkan.
Perubahan layanan Flexi itu merupakan bagian dari langkah peralihan Telkom ke teknologi berbasis protokol internet dan broadband. “Bukan hanya telekomunikasi, kita mencari apa yang bisa mendukung proses beralihnya telkom ke layanan yang semakin multimedia dengan basis IP yang semakin kuat,” ujar Suryatin.
Menurut Suryatin, Telkom juga berencana untuk mengganti sebagian besar kabel tembaga yang saat ini digunakannya dengan kabel tembaga berkemampuan ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line). Infrastruktur yang akan digunakan Telkom, lanjut Suryatin, kemungkinan memakai teknologi IP DSLAM (Digital Subscriber Line Access Multiplexer) atau ADSL 2+.
Suryatin menargetkan pada tahun 2008 sebanyak 2 juta sambungan Telkom akan memiliki kemampuan ADSL. Telkom saat ini sedang giat mempromosikan layanan ADSL dengan label Speedy.
Nov 06
Bisnis Indonesia: Telkomsel berencana melakukan uji coba layanan jaringan telekomunikasi dan akses data yang termasuk teknologi generasi ketiga (3G) pada triwulan pertama 2005 mendatang, walau pemerintah belum mengeluarkan izin 3G untuk operator tersebut. Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel, Bambang Riadhy Oemar, mengemukakan uji coba jaringan 3G tersebut akan dilaksanakan meskipun operator GSM itu belum mengantongi lisensi penggunaan frekuensi dari pemerintah.
“Uji cobanya akan dilakukan di Jakarta dan kota-kota lain yang penduduknya tidak terlalu padat namun potensi pengguna layanan itu dianggap cukup tinggi seperti Batam dan Denpasar,” katanya akhir pekan lalu.
Pemerintah sendiri telah memberikan lisensi layanan 3G kepada PT Cyber Access
Communication melalui proses beauty contest. Selain itu baru-baru ini, pemerintah juga mengeluarkan lisensi 3G yang baru kepada PT Natrindo Telepon Selular-merek dagang Lippo Telecom-melalui penunjukan pada pita frekuensi 1900 MHz. Alasan yang dikemukakan pemerintah adalah agar operator itu bisa keluar dari kondisi krisis karena kalah bersaing dengan operator lain. Sebagai kompensasinya, frekuensi yang tersisa untuk layanan 3G akan dialokasikan kepada operator lama.
Menurut Bambang, pemerintah cepat atau lambat akan mengeluarkan layanan 3G kepada Telkomsel sehingga pihaknya tidak ragu untuk melakukan uji coba. Selain itu, Telkomsel yang merupakan kelompok Telkom Group sudah memiliki persiapan dan arah pengembangan teknologi yang menuju pada pengoperasian layanan 3G.
“Bagi kami di Telkom Group tidak menjadi masalah apakah lisensi itu diberikan kepada Telkom atau Telkomsel sebab Telkom sendiri memiliki Telkom Flexi yang spektrumnya sudah sama dengan 3G. Persiapan kami untuk layanan itu sudah berlangsung sejak beberapa waktu lalu,” katanya. Persiapan itu berupa pengoperasian layanan data GPRS (Global Packet Radio Services) dan pengembangan layanan EDGE (Enhanced Data rate for GSM Evolution). “Kedua layanan sebenarnya sudah mengarah ke layanan 3G,” tuturnya.
Nov 05
![Get Firefox!]()
Mozilla dan Firefox semakin berkembang dan semakin banyak digunakan oleh para pengguna internet. Bahkan bukan tidak mungkin kedua web browser tersebut akan menyaingi dominasi Internet Explorer. Menurut survei bulanan yang dilakukan WebSideStory, jumlah pengguna internet yang memakai web browser Mozilla dan Firefox mencapai enam persen dari total pangsa pasar web browser di bulan Oktober. Pada bulan September kedua aplikasi tersebut mencapai pangsa pasar 5,2 persen. Sementara di akhir bulan Juni masih mencapai 3,5 persen.
Pada bulan Juni jumlah pengguna IE masih mencapai 95,5 dari total pangsa pasar browser. Sementara pada akhir bulan September mengalami penurunan menjadi 93.7 persen. Dan akhir bulan lalu, jumlah pemakai IE turun menjadi 92,9 persen. Sementara itu, web browser Opera dan Apple Safari hanya memiliki pangsa pasar sebesar satu persen saja. (@dit/komputeraktif.com)
Nov 05
ZTE, salah satu pabrikan ponsel di Cina, telah merilis ponsel 3G terkecil dan teringan di dunia. Ponsel bernama ZTE F808 diklaim hanya memiliki bobot 104 gram dan ukuran dimensinya 88.5 mm x 44.6 mm x 22.5 mm. Di dalam ponsel mini tersebut telah disertakan fitur multimedia messaging (MMS) dan kamera digital 300,000 pixel yang bisa diputar. Selain itu ponsel tersebut juga memiliki kemampuan video, menjalankan multimedia, dan men-download data berkecepatan tinggi.
“ZTE berusaha untuk menjadi yang terdepan dalam teknologi mobile,” tutur Shi Lirong, Senior Vice President ZTE, seperti dikutip The Inquirer, minggu lalu. “Ponsel kami sejalan dengan pengembangan infrastruktur jaringan.”
Menurut Lirong, ZTE telah mendistribusikan lebih dari 12 juta ponsel di tahun 2004. Tahun lalu penjualan ponsel ZTE hanya mencapai 4,6 juta unit. Di tahun depan diprediksi penjualan ponsel ZTE bisa meningkat pesat, salah satu pelopornya adalah ponsel F808. (@dit/komputeraktif.com)
Nov 04
Bisnis: Rencana peluncuran satelit Telkom-2 akhirnya harus ditunda menjadi pertengahan Februari 2005 dari jadwal semula bulan ini akibat belum tersedianya satelit pendamping pada roket peluncur Ariane 5 milik Arianespace. Kepala Divisi Long Distance PT Telkom Sarwoto Atmosoetarno mengatakan kesiapan BUMN itu untuk peluncuran satelit Telkom-2 sebenarnya sudah tidak ada masalah dan sudah sesuai dengan jadwal.
“Namun yang menjadi masalah adalah roket peluncur Ariane 5 membutuhkan co passenger, tidak hanya satelit Telkom-2 saja. Akibat persoalan itu, jadwal peluncuran akhirnya ikut tertunda,” ujarnya. Sementara bila roket Ariane 5 hanya meluncurkan satelit miliki Telkom, biaya yang dibutuhkan cukup mahal. “Ya solusinya yang diambil menunggu co-passenger tersebut. Sudah ada satelit milik pemerintah Prancis yang siap diluncurkan namun baru siap pertengahan Februari 2005.”
Satelit Telkom-2 sebenarnya harus meluncur tahun ini. Peluncuran satelit itu ditujukan untuk menggantikan Palapa B-4 yang habis masa operasinya pada Mei 2003 walau masih bisa diperpanjang umurnya menjadi April 2005. Sarwoto juga menjelaskan perusahaan telekomunikasi itu juga sudah menyiapkan beberapa kondisi darurat bila satelit Telkom-2 masih tetap mundur untuk jadwal peluncurannya. Beberapa pilihan itu antara lain pengalihan transmisi dengan menggunakan SKKL (Sistem Komunikasi Kabel Bawah Laut), SKSO (Sistem Komunikasi Serat Optik), dan gelombang mikro.
Menurut data Bisnis, peluncuran satelit Telkom-2 membutuhkan dana berkisar antara US$125 juta hingga US$200 juta termasuk di dalamnya biaya asuransi dan roket peluncur. Sebagian besar dana itu telah masuk capital expenditure 2004 PT Telkom.
Dana yang digunakan untuk pengoperasian Telkom-1 sekitar US$192 juta di mana US$15 juta diantaranya untuk asuransi, sedangkan lainnya mencakup biaya pembuatan satelit itu sendiri US$84,6 juta, jasa peluncuran US$90,144 juta, serta biaya jasa konsultan US$1,672 juta. Namun untuk penyediaan satelit Telkom-2, BUMN itu telah menunjuk dan menandatangani kontrak dengan Orbital Sciences Corporation AS.
Bila dilihat dari kegunaannya, kapasitas transponder satelit Telkom-2 nantinya akan dijual kepada pengguna di luar Telkom terutama kebutuhan pasar regional yang mencapai 70%. Sedangkan sisanya untuk kebutuhan sendiri.
Telkom-2 tidak hanya akan ditujukan untuk telekomunikasi, namun juga akses informasi dan komunikasi data layanan ritel seperti VSAT (very small aperture terminal) untuk komunikasi closed user group. (fh)