Jan 31

Siemens and Juniper Networks, Inc. (NASDAQ: JNPR) announced that PT Telkom, Indonesia’s leading telecommunications service provider, has further expanded its IP/MPLS-based core infrastructure with additional Juniper Networks M-series multiservice routing platforms including the M320. The upgrade, performed by Siemens, builds on PT Telkom’s existing M-series routers, deployed last year as part of an initial Next Generation Network (NGN) rollout. The new deployment spans 17 cities, connecting softswitch systems and legacy routers.“After more than a year of intensive use, our earlier M-series deployment has demonstrated the superiority and flexibility of Juniper’s JUNOS Operating System,” said Mr. Abdul Haris, PT Telkom’s Director of Network and Solutions and the service provider’s Chief Technology Officer. “We were also impressed by the routers’ traffic engineering capability, strict QoS adherence even under extremely heavy load, and Juniper’s high availability features, such as fast reroute and in-service upgrading. We are confident to stay with Juniper and its routing solutions for our long-term NGN strategy.”

The M-series multiservice routers are part of the Juniper Networks family of best-of-class routing platforms which also include the market leading E-series Broadband Services Routers and T-series next-generation core routers. Juniper Networks E-, M- and T-series routing platforms deliver industry-leading levels of performance, reliability and scale to enable service providers to deliver high-quality voice, video, data and other advanced services over an IP/MPLS network with assured levels of performance and security. The T-series is the industry’s most proven core routing platform and, with the multi-chassis TX Matrix technology, allows service providers to scale to multi-terabit rates without the risks associated with new and unproven technologies.

“Our M-series deployment at PT Telkom is a great example of the benefits of migrating to a next generation IP/MPLS-based infrastructure,” said Adam Judd, vice president of Asia Pacific for Juniper Networks. “Asia Pacific’s need for capacity to deliver advanced services - including VoIP, realtime video, broadband access, and VPN services - continues to grow, and service providers such as PT Telkom are leveraging Juniper’s industry leading platforms to address this demand and capture new revenue opportunities.”

Jan 28

Detik — Indosat akan meluncurkan Satelit Palapa D pada pertengahan 2009 mendatang, menggantikan Satelit Palapa C2, yang akan berakhir masa orbitnya sekitar 2010 sampai 2011. “Selang waktu satu tahun itu untuk mengantisipasi jika saja terjadi kendala di satelit,” ujar Direktur Regional Sales Indosat, Wityasmoro Sih Handayanto kepada wartawan di Bandung.

Dijelaskan, satelit Palapa D nantinya akan beroperasi di orbit 113 derajat Bujur Timur yang sekarang masih ditempati satelit Palapa C2. Sedangkan satelit Palapa C2 yang masih mempunyai masa aktif sekitar satu sampai dua tahun lagi, akan direlokasi ke orbit 150,5 derajat BT yang sebelumnya ditempati Palapa C1.

Satelit Palapa D akan memiliki 40 transponder, lebih banyak dari Palapa C2 yang hanya 36 transponder. Dari 40 transporder itu, Wityasmoro menjelaskan, sekitar 40 persen akan digunakan untuk kepentingan Indosat di dalam negeri, sedangkan sisanya akan disewakan ke pihak di luar Indosat baik dari dalam ataupun luar negeri. Dijelaskannya, selain Indonesia, cakupan satelit itu bisa mencapai Asia, India, Jepang dan Australia.

Wityasmoro menolak mengungkap besaran investasi yang dikeluarkan. “Kita tidak bisa menyebutkan karena sekarang sedang dilaksanakan tendernya, tapi di antaranya masih diambil dari Capex 2007 (US$ 1 miliar, red),” kilahnya.

Tetapi jika dilihat dari rata-rata peluncuran satelit di Indonesa, satelit ini dapat menghabiskan sekitar US$ 200 juta sampai US$ 300 juta. Sebagai gambaran, Telkom yang juga akan meluncurkan Satelit Telkom 3 di 2009 dengan kapasitas 24 transponder menghabiskan dana sebesar US$ 150 juta.

Jan 28

Detik — Indosat akan meningkatkan ekspansi cakupan jaringannya hingga 50 persen dengan menambah sekitar 3500 sampai 4000 BTS (base transceiver station) di 2007. Hal itu diungkap Deputi Presiden Direktur Indosat, Kaizad B. Heerjee, yang mengatakan hingga akhir 2006 lalu jumlah BTS yang dimiliki Indosat sebanyak 7.000 unit. “Jadi, di akhir tahun (2007-red) BTS yang kami miliki akan mencapai lebih dari 10.000 unit,” ujarnya di Bandung. Sedangkan menurut Direktur Regional Sales Indosat, Wityasmoro Sih Handayanto, dari coverage yang ditargetkan di 2007 sekitar 45 persennya dialokasikan untuk pembangunan di luar Jawa yang sebelumnya kurang dari 30 persen.

Saat ini, lanjut Wityasmoro, di akhir 2006 lalu coverage Indosat di seluruh Indonesia belum mencapai 100 persen. Dari penjelasannya ia merinci, di area Sumbagut (Sumatera bagian utara) coverage baru mencapai 97,6 persen kemudian Sulampapua (Sulawesi Maluku Papua) baru 81 persen, sementara wilayah Jabotabek dan Banten coverage sekitar 90 persen. Kaizad mengatakan, anggaran belanja (capital expenditure/capex) Indosat untuk ekspansi jaringan di 2007 sebesar US$ 1 miliar.

Jan 15

Detik, Telkomsel akan menambah sekitar 1.500 Node B (BTS 3G) di 2007 dengan alokasi dana sekitar US$ 1,5 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun. Hal itu dilakukan demi mempercepat penggelaran 3G ke berbagai kota di Indonesia. Sejak diluncurkan empat bulan lalu, perusahaan telah meraih pelanggan 3G sebanyak 1,6 juta pelanggan. “Pencapaian ini menjadikan Indonesia sebagai negara nomor sepuluh di dunia dan nomor lima di Asia Pasifik dalam hal jumlah pelanggan 3G,” ungkap Direktur Operasi Telkomsel, Alan Ho.

Data UMTS forum menyebutkan, saat ini jumlah pelanggan 3G di seluruh dunia mencapai 100 juta pelanggan, di mana 50,4% di Eropa barat dan 47,8% di Asia Pasifik. Sisanya, kurang dari 2% di Eropa Timur, Afrika, Timur Tengah, Amerika latin, Amerika Utara (AS dan Kanada). Menurut Alan, dari 159 negara yang telah mengimplementasikan teknologi 3G saat ini, jumlah pengguna 3G di Indonesia yang didominasi pelanggan Telkomsel berada di bawah negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Hongkong dan Cina, Italia, Inggris, Perancis dan Jerman.

Pertumbuhan pelanggan 3G secara global selama tiga tahun terakhir meningkat secara signifikan. Jumlah pelanggan 3G dunia pada akhir 2004 berjumlah 16 juta pelanggan, di akhir 2005 menjadi 50 juta pelanggan, dan akhir tahun 2006 mencapai 100 juta pelanggan. Bahkan, Alan memprediksikan jumlah pelanggan 3G dunia di akhir 2007 ini akan meningkat 175% menjadi 275 juta pelanggan.

Saat ini Telkomsel telah menggelar sekitar 1.000 BTS 3G yang tersebar di 30 kota, yakni Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Solo, Purwokerto, Surabaya, Malang, Medan, Palembang, Pematang Siantar, Bukittinggi, Lubuk Pakam, Jangto, Banda Aceh, Sidoarjo, Mojokerto, Gersik, Samarinda, Pekanbaru, Batam, Tanjung Pinang, Denpasar, Mataram, Makassar dan Balikpapan.

Telkomsel juga menambah 3 negara untuk akses panggilan internasional 3G via akses IDD Call 007 untuk Swedia, Belanda dan Jepang. Dengan penambahan ini jumlah komunikasi internasional 3G Telkomsel menjadi 15 negara. Sebelumnya negara yang telah dibuka adalah Singapura, Malaysia, Filiphina, Taiwan, Australia, Hongkong, Jerman, Belgia, Perancis, Arab Saudi, Italia, dan Yunani.

Jan 13

Spectrum, British Telecom (BT) telah memulai langkah nyata untuk peralihan ke NGN, dan kembali membawa citra baik negara Inggris maupun perusahaan telco kembali ke garda depan perkembangan teknologi telekomunikasi.

Di tahun 1999, hanya 1% pemakai Internet Inggris yang tidak memakai akses dialup. Awal 2006, jumlah pemakai broadband sudah 19% dari seluruh warga, yang jelas mengalahkan Amrik atau Korea. Pada bulan September, seluruh sentral telah terkoneksi DSL. Dan BT menyiapkan migrasi yang lebih besar: NGN.

Nama proyek ini adalah 21st Century Network (21CN). NGN bagi BT bukan lagi network masa depan, tetapi masa kini yang sudah dimasuki. 21CN adalah migrasi segala macam network yang dimiliki BT menjadi network tunggal berbasis IP. Sejumlah 16 sistem network yang ada saat ini, termasuk telepon, X25, ATM, yang menjangkau hingga 170 negara akan dimatikan, dan digantikan network yang baru. Total biaya mencapai £10 miliar, dan dijadwalkan selesai tahun 2012. Amrik, Jepang, dan Korea; yang dimitoskan paling mampu beradaptasi dengan multimedia, tidak memiliki keberanian yang mendekati hal ini.

Secara sederhana (sekali), konfigurasi 21CN adalah sbb. CPE diinterfacekan dengan perangkat MSAN (multiservice access node). Dari MSAN, trafik mengalir sebagai data terintegrasi, dalam protokol MPLS, dimana koneksi disusun dalam semacam VC berbasis IP. Tentang MPLS dan juga NGN ini, terdapat whitepaper (agak kuno) di halaman artikel site ini. Dari MSAN, trafik dilarikan ke Metro Node, yang merupakan NGN media gateway berkapasitas besar (tapi bukan berarti secara fisik juga besar). Metro Node saling dihubungkan dengan IP core network.

Untuk implementasi awal, BT mencobai di Wales Selatan. Metro Node dipasang di Newport, Swansea, dan Cardiff. Kapasitas telepon telah akan dimigrasikan adalah 350 000 sambungan. Migrasi dilakukan 28 November 2006, dan customer telepon tidak tahu bedanya. Network diparalel dengan network lama, menjaga jika ada masalah selama dan setelah migrasi. Sejauh ini, tidak ada backup yang pernah digunakan. Hingga kini telah dipasang 9 Metro Node, menggantikan 70 sentral lokal.

Proyek 21CN akan memasang total 5500 MSAN. Manufakturnya adalah Fujitsu (Jepang) dan Huawei (RRC — ya, Huawei yang juga sedang asyik memasang MSOAN untuk Telkom itu, tapi yang ini masih belum NGN). Untuk menjamin keberhasilan, BT mengawasi dengan ketat kerja para supplier: pekerjaan mereka, sistem supply, subkontraktor, dan keseluruhan jaringan distribusi. Transmisi dimanufakturi oleh Huawei dan Ciena (Amrik). Metro Node dimanufakturi Siemens, Cisco, dan Alcatel; dan akan dibangun sejumlah 100 buah. Satu hal yang (tidak) menarik adalah bahwa Marconi, manufaktur telekomunikasi Inggris, satu2nya yang masih hidup, tidak mendapat apa pun dalam proyek ini. Efeknya, Marconi kolaps, dan dibeli Ericsson. Ericsson sendiri dalam proyek ini memperoleh bagian pada penyediaan network service, dalam modul-modul yang dinamai iNode. Ericsson bekerja tanpa saingan di sini. Core network, yang mengalirkan triliunan bit per detik, dibangun oleh Cisco dan Lucent secara terduplikasi (dengan software, topologi, dll, yang semuanya berbeda). Ini untuk alasan keamanan. Serangan yang tak terduga pada jaringan Cisco diharapkan tak akan mengganggu jaringan Lucent, dan sebaliknya.

Jan 11

Bisnis Indonesia — Telkom akan memfokuskan pembangunan sistem teknologi informasi berbasis teknologi protokol Internet dengan total belanja modal sebesar Rp1 triliun hingga 2008. Telkom menganggarkan pembangunan solusi TI sekitar 3% dari total pendapatannya guna meningkatkan efisiensi sebesar 3% sampai 5%. Salah satu solusi TI yang akan dibangun adalah Tenoss (Telkom National Operational Support System).Khusus untuk aplikasi Tenoss, Telkom menggandeng Clarity, sebuah perusahaan penyedia sistem pendukung operasional industri telekomunikasi asal Australia. CEO Clarity Tomislav Matic mengatakan Telkom telah menunjukkan diri merupakan perusahaan yang memiliki wawasan ke depan dalam mengadopsi jaringan generasi lanjutan (Next Generation Network/NGN). “Saat ini Telkom telah menjadi bagian dari pelanggan kami lainnya di dunia yang akan memiliki manajemen infrastruktur, manajemen layanan pelanggan, dan sistem penagihan dalam satu sistem”, tuturnya.

Tomislav enggan menyebutkan nilai investasi yang ditanamkannya pada Telkom. Selain Telkom, perusahaan itu juga menjadi penyedia bagi operator Telekom Malaysia dan sejumlah operator di Australia.

Jan 10

Detik — Telkom akan tenderkan perangkat penunjang untuk satelit Telkom-3 mulai 2007 ini. Total investasi yang dianggarkan untuk satelit Telkom-3 mencapai US$ 150 juta. Ini disampaikan oleh Kepala Divisi Infrastruktur Telkom, Sarwoto Atmosutarno. “Saat ini, Telkom-3 sedang dalam tahap engineering plan.”

Sarwoto menjelaskan, engineering plan itu meliputi penentuan sistem yang akan digunakan. Hal itu termasuk kapasitas satelit, bahan bakar dan baterai, hingga masa orbit satelit. Ia menambahkan, perusahaan yang biasanya bergerak dalam jasa pembangunan satelit antara lain Lockheed Martin, Alcatel, Orbital, GreatWall, dan Mitsubishi.

Meski demikian, Sarwoto tidak merinci pihak atau perusahaan mana yang akan meluncurkan satelit Telkom-3 tersebut. Peluncuran Telkom-3 rencananya akan digelar awal 2009. Sebelumnya, satelit Telkom-2 telah diluncurkan oleh roket Ariane Space pada November 2005.

Kapasitas Telkom-3, yang rencananya akan berorbit di 118 derajat Bujur Timur, diharapkan mencapai 36 transponder. Menurut Sarwoto kebutuhan Telkom dan anak perusahaan akan jasa satelit meningkat setiap tahunnya. Saat ini, transponder yang ada di Telkom-1 (24 transponder) dan Telkom-2 (24 transponder) semuanya sudah terpakai. Tiap satelit yang dimiliki Telkom memiliki siklus hidup sekitar 15 tahun.

Jan 09

Bisnis Indonesia — Telkom sedang mengkaji kemungkinan akan mengkomersialisasikan layanan televisi berbasis internet protocol (IPTV). Uji coba laboratorium pengembangan IP-TV sudah dilakukan, tinggal menunggu hasil kajian untuk komersial.

Jaringan berbasis IP memiliki kemampuan dan fleksibilitas tinggi menyajikan layanan komunikasi terpadu yang tidak bisa didapat melalui jaringan konvensional. Konsumen nantinya tidak hanya dapat menikmati siaran televisi tetapi juga layanan komunikasi terpadu dan interaktif. Peluncuran komersial IP-TV Telkom ini tergantung pada kebutuhan dan animo yang berkembang di pasar. Telkom saat ini fokus menjajaki potensi layanan yang bisa dilahirkan jaringan IP.

IPTV yang dikembangkan Telkom ini kelak menyajikan program TV interaktif antara lain, olah raga, berita, film serta ragam sajian hiburan lainnya (musik, game, iklan) melalui jaringan internet pita lebar (broadband) IP yang aman dan terkelola dengan baik. Ragam layanan IPTV di antaranya Electronic Program Guide, Broadcast/Live TV, Pay Per View, Personal Video Recording, Pause TV, Video on Demand, Music on Demand (Walled Garden), Gaming, Interactive advertisement, dan T-Commerce.

Jan 06

Detik – Telkomsel menyiapkan anggaran belanja Rp 1 triliun untuk membangun 1.000 Node B (BTS 3G) di sepanjang 2007. Sekitar 80% di antaranya bakal dilengkapi teknologi HSPDA atau 3,5G. Hal itu diungkap Direktur Perencanaan dan Pembangunan Telkomsel, Bambang Rhiady Oemar. Menurutnya, Telkomsel selama 2006 telah membangun sebanyak 956 Node di 10 provinsi. Artinya, dengan penambahan yang dimaksud –di 10 provinsi sebelumnya dan 10 provinsi tambahan, operator seluler itu akan memiliki hampir 2.000 Node B di akhir tahun. “Sedangkan jaringan yang bisa support HSDPA, sekitar 80%” ujarnya, di Gedung Telkomsel, Wisma Mulia.

Teknologi High Speed Downlink Packet Access (HSPDA) merupakan layanan 3G generasi lanjutan berbasis (3,5G) yang memiliki kecepatan super tinggi di kelasnya: 3.6 Mbps, atau sekitar 9-10 kali lebih cepat dari layanan 3G pada umumnya. Berdasarkan siaran pers, Sabtu (6/1/2007), anak perusahaan Telkom itu berencana membangun sebanyak 5.000 BTS, dimana 1.000 di antaranya untuk infrastruktur 3G. Total dana belanja yang siap digelontorkan tahun ini sebesar US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Penambahan BTS akan dialokasikan khusus untuk memperkuat jaringan di cakupan area kecamatan (IKC) Kalimantan hingga menembus 100%, dan sekitar 60-70% untuk wilayah Sulawesi.

Telkomsel telah menggelar jaringan di 25 kota besar di 10 provinsi di Indonesia. Namun, menurut Bambang, belum seluruhnya boleh dikomersilkan karena beberapa kota belum dinyatakan lulus uji laik operasi (ULO) 3G. Adapun kota-kota yang telah dipasangi jaringan 3G Telkomsel (komersil dan non-komersil) adalah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Purwokerto, Surabaya, Malang, Medan, Pematang Siantar, Padang, Palembang, Lampung, Tanjung Pinang, Pekanbaru, Batam, Mataram, Denpasar, Makasar, Balikpapan, dan Banda Aceh.

Jan 06

Detik — Koneksi internet ke jalur internasional sebenarnya belum pulih seperti sediakala. Kronologis perbaikan itu disampaikan oleh praktisi teknologi informasi Irvan Nasrun kepada detikINET. Diperkirakan pemulihan total kabel serat optik bawah laut akan rampung pada 30 Januari 2007.

Berikut ini kronologis perbaikannya:

  1. Serat optik SMW3 (South East Asia-Middle East-Western Europe), segmen 1.8 (Fangshan - BU4) ke Fangshan terputus pada tanggal 26 Desember (12:25 UTC/19:25 WIB), apabila tidak ada halangan akan aktif pada tanggal 8 Januari 2007. Lokasi putusnya kabel ini berada pada KM 44 dari ‘Fangshan Cable Station’
  2. CUCN (China US Cable Network) segmen 1, apabila tidak ada halangan kabel yang menghubungkan antara Cina dan Amerika Serikat ini akan aktif pada tanggal 12 Januari 2007.
  3. SMW3 segmen 1.7 (BU3-BU4), diperkirakan akan aktif pada tanggal 15 Januari 2007. Lokasi putusnya kabel ini adalah KM 459 dari ‘Shantou Cable Station’.
  4. CUCN W2-3, kabel ini akan bisa digunakan pada tanggal 18 Januari 2007.
  5. APCN (Asia Pacific Cable Network) System 2 Segment B5 putus pada pukul 20:44 UTC tanggal 26 Desember 2006 (27 Desember 2006, 03:44 WIB). Lokasi putusnya kabel ini berada pada jarak 920 kilometer dari ‘Toucheng Cable Station’. Apabila tidak ada masalah kabel APCN System 2 Segment B5 ini akan aktif pada tanggal 20 Januari 2007.
  6. APCN System 1 Segment B17 yang terputus pada 26 Desember 2006 pukul 18.15 UTC (01.15 WIB, 27 Desember 2006). Apabila tidak ada perubahan, akan aktif pada tanggal 30 Januari 2007.

Kabel SMW3, ujar Irvan, memiliki panjang 39.000 kilometer dan merupakan kabel terpanjang di dunia. Kabel ini selesai dibangun pada akhir tahun 2000. Sedangkan untuk kabel APCN (12.000 km) dan CUCN (26.000 km) dibangun pada akhir tahun 1997. “Diharapkan setelah kabel SMW dan APCN aktif maka koneksi Internet akan kembali seperti sediakala,” tutur Irvan.