Bisnis. PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) telah mengajukan lisensi akses nirkabel tetap (fixed wireless access/FWA) kepada Ditjen Postel menggunakan teknologi CDMA 450. Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar membenarkan pengajuan lisensi FWA oleh Sampoerna tersebut dengan menggunakan teknologi dan frekuensi yang mereka miliki sebelumnya. “Pemerintah telah menerima pengajuan lisensi FWA dari STI, namun setelah bertemu dengan jajaran Ditjen Postel dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia [BRTI], mereka masih akan mengkaji kembali mengenai pengajuan tersebut,” ujarnya.
STI sebelumnya dikenal dengan nama Mandara Telepon Seluler, operator seluler berteknologi CDMA dan beroperasi pada pita frekuensi 450 MHz. Mandara adalah bentuk baru dari Mobisel, operator seluler berbasis teknologi NMT (Nordic mobile telephone). STI yang memiliki merek dagang Ceria dan Neon tersebut telah memperluas layanannya hingga ke Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Palembang, Baturaja, Lahat, Lubuk Linggau, Jawa Timur dan Jawa Tengah hingga akhir tahun lalu. Pada saat yang sama Sampoerna juga telah memberikan layanan telekomunikasi di wilayah Jambi (Bangko dan Muarabungo) dan Provinsi Riau (Pekanbaru, Dumai, Rengat dan Tembilahan). Sebelumnya operator tersebut telah menjangkau Provinsi Lampung, Bali, dan Lombok. Sementara awal Oktober akan segera menjangkau Provinsi Sumatra Selatan, Jambi, Riau dan disusul kemudian Provinsi Jawa Timur dan Jateng. Hingga pertengahan tahun lalu, jumlah pelanggan STI telah mencapai 39.000 sambungan Ceria CDMA (digital) dan masih ada sekitar 3.000 Neon NMT (analog) yang tersebar di daerah pedesaan.
STI menyatakan bahwa Telkom telah mempermudah ketersambungan telekomunikasi STI di semua cakupan layanannya. GM Intercarrier STI Soewito mengatakan pihaknya telah menerima pembukaan interkoneksi dari Telkom sehingga dapat segera melakukan ekspansi jaringan di Jabar, Jatim, Yogyakarta, Bali, Lombok, Lampung, Riau, Jambi dan Sumsel. “Kemudahan interkoneksi tersebut membuat Sampoerna menargetkan bisa meraih 750.000 pelanggan seluler baru tahun ini dari sebelumnya yang hanya sekitar 110.000 tahun lalu,” ujarnya. Soewito juga mengungkapkan seluruh operator telah menjalankan kerja sama interkoneksi secara baik dan tidak ada kendala yang berarti sejak 1 Januari.
