Rencana pemberian lisensi WiMAX oleh Pemerintah Indonesia ternyata ditanggapi dengan hangat juga oleh para operator selular. Namun mengapa operator yang sudah memiliki lisensi 3G/UMTS ini masih juga punya minat pada WiMAX? Di satu sisi, ini untuk menghambat kompetisi dari teknologi yang memang secara konvergensi akan jadi bersaing ini. Namun, jika dilihat dari sisi positif, para operator memahami bahwa WiMAX merupakan komplemen layanan yang penting bagi 3G/UMTS; khususnya bagi sebagian besar customer yang melakukan akses informasi tidak sambil bergerak.
Tetapi, jika 3G/UMTS dan WiMAX dipegang oleh sebuah entitas, atau sekelompok yang berafiliasi, bagaimana cara agar keduanya benar2 menjadi komplemen, seolah2 menjadi sebuah network lengkap, dengan sistem identitas user yang tunggal, dengan layanan yang kontinu bagi user yang harus berpindah network, dan tanpa terlalu banyak sistem yang redundant?
Mengandaikan bahwa standar 3GPP yang digunakan sudah mengadopsi Release 5 (dengan IMS), akan dapat dilakukan interworking pada service layer kedua macam network. Negosiasi akan tetap menggunakan SIP seperti yang digunakan dalam IMS. Pengelolaan user dengan AAA dilakukan pada infrastuktur UMTS. Skemanya dideskripsikan dalam gambar ini:

Garis oranye menunjukkan aliran data (media), dan garis biru persinyalan. HSS (home subscriber server) meyimpan informasi user, termasuk autorisasinya, dan profile. AAA, melakukan fungsi autentikasi, autorisasi, dan accounting (charging). Sekelompok CSCF (call session control function) pada struktur IMS berfungsi mengelola sesi informasi.
Persinyalan antara IMS dan WiMAX dilakukan melalui I-CSCF (I=interrogator) ke CSN WiMAX. Pada WiMAX, CSN memainkan urusan QoS, dan ASN memainkan strategi akses. Harus ada pemetaan antara QoS 3GPP dan WiMAX. UMTS mendefinisikan empat kelas QoS: conversational, streaming, interactive, dan background. WiMAX juga mendefinisikan empat kelas: UGS (unsolicited grant service), rt-PS (realtime polling service), nrt-PS (non-realtime polling service), dan BE (best effort). Tinggal dilakukan pemetaan sesuai sifat aplikasi yang ditargetkan di setiap kelas. Resource QoS dapat diberikan baik melalui prekonfigurasi, ataupun dengan reservasi sesuai trigger dari client.
Tentu masih banyak yang harus dipertimbangkan. AAA antar dua network misalnya, termasuk bagi user yang sedang melakukan roaming, harus dipertimbangkan baik dari sisi bisnis maupun dari security. Soal hand-over juga bisa menjadi bahan yang sangat menarik untuk diperincangkan secara terpisah.
(Cat: Copy dari kun.co.ro)

July 25th, 2007 at 9:57 am
kalo emang operator UMTS berminat terhadap lisensi WiMaX, secara ekonomi ga da msalah, hanya saja perlu di lihat lebih cermat mas kun.. jika layanan Wimax di gelar, ada beberpa pertanyaan yang harus di persiapakan jawaban nya oleh oleh operator saat ini, yang pertama adalah skema harga. apaka harga yang ditawarkan operator WiMax nantinya bisa lebih murah dari harga UMTS untuk layanan data. apakah User equipment untuk WiMax bisa mudah didapatkan dan harganya terjangkau, dan yang ke tiga, apakah layanan operator mampu menggelar layanan WiMax di banyak kota dalam waktu yng singkat jika di asumsikan layanan VOIP mau di pake.? setidak nya dari kacamata saya sebagai caoln pelanggan.
terus kalo dari sisi jaringan, skema yang ada diatas adalah skema Loose Coupling. Emang jika tanpa modifikasi pada UMTS, skema ini yang paling feasible karena layanan data berbasis IP berada pada GGSN UMTS, hanya saja skema ini tidak bisa dilakukan inter-system seamless handover, terutama untuk layanan real time, delay signaling yang di butuhkan oleh jaringan diperkirakan melebihi delay threshold yang di ijin kan.
kalo boleh usul nieh mas kun , gimana kalo inegrasi WiMaX-UMTS menggunakan skema very tight Coupling, yaiu pada level Radio accses network, memang sih diperlukan adanya modifikasi pada RNC dan dan ASN terutama pada protocal stack dan scenario dan Radio Resources management nya trus penambahan server HIS (Hibrid Infrmatin system). salah satu keuntungan nya adalah… dimungkinkan adanya intersystem HO, distribusi load balancing. coverage and capacity gain… hehehe ..kebanyakan ya usul nya………gapapa kan.. THX
September 6th, 2007 at 6:07 am
Di sekolah tempat ku ngajar gak ada komputernya, anak2 didikku terdiri dari 40 anak tergolong orang yang tidak mampu. bisakah anda mendatangkan internet goes to school ke tempat kami?
May 21st, 2008 at 1:43 am
Mbak Yasinta, bisa diinfokan , alamat sekolahnya dimana?