Sep 06

Detik — Menurut laporan The International Telecomunication Union (ITU), sambungan telepon dunia meningkat empat kali lipat jika dibandingkan satu dekade lalu. Jumlahnya kini menembus angka 4 miliar sambungan. Alasan yang mendasari lonjakan tersebut disinyalir akibat pesatnya penjualan ponsel di negara-negara berkembang.

Dalam data terakhir yang dihimpun ITU, tercatat ada sekitar 1,27 miliar sambungan telepon tetap (fixed line) dan 2,68 miliar sambungan ponsel secara global. Sementara untuk jumlah pemakainya tidak bisa dipastikan karena banyak orang terutama di negara industri punya kedua-duanya.

Padahal pada tahun 1996, jumlah pelanggan ponsel dan telepon tetap hanya kurang dari 1 miliar. Menurut Doreen Bogdan Martin, salah seorang penyusun laporan mengatakan bahwa melesatnya penggunaan ponsel berdampak negatif pada pertumbuhan telepon tetap yang semakin melambat.

Peningkatan jumlah ponsel ini, lanjut Martin, tampak jelas di negara-negara berkembang yang telah mampu menyediakan layanan ponsel yang lebih murah daripada sambungan telepon tetap. Buktinya, sebanyak 61 persen dari pelanggan ponsel berada di negara berkembang seperti India dan Cina. Jika dipadukan dalam tiga bulan pertama di tahun ini, kedua negara tersebut saja bisa menyumbangkan sekitar 200 juta pelanggan ponsel baru.

Perkembangan ini juga didukung dengan apa yang disebut industri telekomunikasi sebagai “jaringan generasi masa depan’, menggunakan jaringan telepon untuk layanan seperti televisi dan VoIP (Voice Over Internet Protocol). Namun laporan itu juga menyebutkan bahwa diperlukan persyaratan tertentu agar pemanfatannya bisa maksimal.

“Di sebagian negara, praktek perlunya lisensi akan melarang operator menawarkan layanan ‘triple play’ yang terdiri dari suara, broadband maupun televisi berbasis Internet,” imbuh Susan Schorr, yang juga tim penyusun laporan itu seperti dikutip detikINET dari Associated Press, Rabu (5/9/2007).

Sep 06

Antara — Mobile-8 mengumumkan untuk menyediakan layanan data nirkabel content berbasis solusi Brew dari Qualcomm pada akhir tahun 2007 di Indonesia. Mobile-8 akan menjadi operator pertama di Indonesia yang menggunakan solusi Brew, dan untuk tahap pertama akan tersedia di berbagai handset ponsel low end Mobile-8 yang telah dilengkapi teknologi generasi ketiga, kata Chief Commercial Officer for Marketing and Strategy Mobile-8, Loh Ket Jiat dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.Senior Director and Country Manager of Qualcomm Indonesia Harry K Nugraha mengatakan dengan menggunakan tehnologi Brew, handset ponsel low end dapat melakukan berbagai aplikasi seperti handset high end GSM, seperti push email dan akses berita terkini.

Harry mengatakan tehnologi Brew telah digunakan oleh operator CDMA di negara-negara seperti Jepang dan Amerika dan platform Brew ini telah ada secara default dalam chipset handset Mobile-8 yang dikeluarkan oleh Qualcomm. Sedangkan Head Of Product Development PT Mobile-8 Telecom Tbk Ronald Simanjuntak, mengatakan, aplikasi yang paling banyak digunakan oleh pengguna ponsel di Indonesia adalah untuk ringtone dan games.

Ronald mengatakan pihaknya telah menghabiskan 300.000 dolar Amerika dari Capex Mobile-8 tahun 2007 sebanyak 125 juta dolar Amerika untuk membangun infrastruktur Brew ini.