Apr 28

Telkom telah melakukan penandatanganan kesepakatan AAG dalam konsorsium di Kuala Lumpur. Seluruh anggota konsorsium AAG yang terdiri dari 17 perusahaan dari 14 negara hadir menandatangani kesepakatan ini.

Saat ini kapasitas akses ke dunia internasional yang dimiliki Telkom sebesar 2,4 Gb/s. Kebutuhan hingga akhir tahun ini yang diperkirakan meningkat sampai 5 Gb/s dipenuhi dengan cara sewa bandwidth. Melalui konsorsium AAG, Telkom akan memperoleh kapasitas sampai 40 Gb/s atau melonjak sampai 15 kali lipat pada tahun 2008 nanti.

“Ini merupakan opsi terbaik setelah menimbang-nimang keuntungan dari sisi kapasitas, konektivitas, dan komersial,” kata Eddy Kurnia, VP Public anda Marketing Communication Telkom. Penambahan bandwidth internasional akan berdampak besar bagi peningkatan pelayanan akses data dan Internet bagi pelanggan Telkom. Selain perusahaan ini juga bisa melakukan penghematan dan efisiensi bandwidth dalam jumlah yang sangat signifikan.

Sementara itu Telkom juga akan mengusahakan penambahan kapasitas bandwidth pada link yang akan digunakan untuk menghubungkan Indonesia dengan jaringan AAG. Selama ini akses dari Indonesia ke jaringan internasional dilakukan melalui link Dumai-Melaka Cable System (DMCS) dengan kapasitas bandwidth 10 Gb/s (gigabit per detik), Thailand-Indonesia-Singapore (TIS) Cable System berkapasitas 10 Gb/s, Radio Link Batam-Singapore berkapasitas 4 STM-1 dan Radio Link Batam-Pangerang (Malaysia) 4 STM-1.

AAG merupakan sebuah konsorsium kabel laut yang beranggotakan 19 perusahaan dari 17 negara di Asia-Pasifik dan AS. Telkom dan Indosat merupakan wakil dari Indonesia yang tergabung di antara raksasa telekomunikasi dunia lainnya, seperti AT&T Corp (AS), Bharti Airtel Ltd (India), StarHub Ltd (Singapura), Telekom Malaysia Bhd (Malaysia), Telstra Corp Ltd (Australia). Selain itu anggota AAG lainnya ialah CAT Telecom (Thailand), Authority of Info-communications Technology Industry (Brunei), Philippine Long Distance Telephone Company (Filipina), Reach Netwoks Hong Kong Limited (Hong Kong) dan Vietnam Posts and Telecommunications Group (Vietnam).

Feb 28

Antara. Excelcomindo (XL) menargetkan jaringan infrastruktur komunikasi berbasis Internet Protocol (IP) pada akhir 2007 mencapai 50 kota, meningkat dari saat ini yang tersedia di 19 kota. “Saat ini XL telah memiliki jaringan tulang punggunggn (backbone) serat optik di sepanjang pulau Jawa, Bali dan Lombok yang dibangun sejak tahun 1996,” kata Director of Commerce XL, Joy Wahyudi.

Dalam keterangan tertulisnya, Joy menjelaskan, jaringan serat optik tersebut terus berkembang dan telah terhubung dengan dengan kabel optik di bawah laut (submarine cable) di wilayah Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Sedangkan, untuk jaringan kabel internasional, XL sudah tersambung hingga Singapura dan Malaysia. “Semua itu dibangun untuk mendukung kebutuhan IP di Indonesia. Dan boleh dibilang sudah sekitar 60 persen dari jaringan backbone itu sudah berbasis IP,” ujar Joy.

XL juga telah memulai program Information Communications and Telecomunications (ICT) yang salah satunya berupa New Generation Network (NGN) berbasis Session Initiation Protocol (SIP) yang telah dimplementasikan secara terbatas kepada pelanggan korporasi XL. Salah satu contohnya adalah layanan Hosted IP PBX, yaitu dengan menyewakan ekstension PABX kepada pelanggan korporat, sehingga korporasi tidak perlu melakukan investasi untuk pembelian perangkat PABX.

Feb 27

Antara. Telkom akan meningkatkan kapasitas gateway internasional dalam mengantisipasi semakin meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia. Dirut Telkom Arwin Rasyid mengatakan, kapasitas gateway internasional di Indonesia saat ini mencapai sebesar dua giga byte (GB). Sedangkan empat tahun ke depan akan ditingkatkan menjadi 20 GB. “Diperkirakan pada tahun 2010 pengguna internet di Indonesia akan mencapai 80 juta pengguna, dengan jenis layanan yang semakin beragam, seperti layanan televisi multimedia,” ujarnya. Ia juga menyebutkan kapasitas total gateway internasional di Indonesia saat ini sebesar empat GB, hanya seperlima dari total kapasitas gateway internasional Malaysia yang mencapai 20 GB.

Dikatakannya, selain meningkatkan kapasitas gateway internasional, pihak Telkom juga sedang mempertimbangkan jalur baru untuk gateway Internasional yang saat ini masih lewat Taiwan. “Kita sedang mengkaji jalur baru yakni Asia-Amerika Gateway, atau bisa juga melalui Australia,” ucap Arwin.

Telkom merupakan penyedia jaringan Internet terbesar di Indonesia, dengan beragam jenis layanan mulai dari dial-up sampai broadband melalui jaringan Asymmetric Digital Subscriber Line (ADSL). “Hanya tiga puluh persen jaringan kabel tembaga Telkom dapat mendukung teknologi ADSL, sementara 70 persen sisanya terus di-upgrade,” kata Arwin menambahkan.

Jan 28

Detik — Indosat akan meluncurkan Satelit Palapa D pada pertengahan 2009 mendatang, menggantikan Satelit Palapa C2, yang akan berakhir masa orbitnya sekitar 2010 sampai 2011. “Selang waktu satu tahun itu untuk mengantisipasi jika saja terjadi kendala di satelit,” ujar Direktur Regional Sales Indosat, Wityasmoro Sih Handayanto kepada wartawan di Bandung.

Dijelaskan, satelit Palapa D nantinya akan beroperasi di orbit 113 derajat Bujur Timur yang sekarang masih ditempati satelit Palapa C2. Sedangkan satelit Palapa C2 yang masih mempunyai masa aktif sekitar satu sampai dua tahun lagi, akan direlokasi ke orbit 150,5 derajat BT yang sebelumnya ditempati Palapa C1.

Satelit Palapa D akan memiliki 40 transponder, lebih banyak dari Palapa C2 yang hanya 36 transponder. Dari 40 transporder itu, Wityasmoro menjelaskan, sekitar 40 persen akan digunakan untuk kepentingan Indosat di dalam negeri, sedangkan sisanya akan disewakan ke pihak di luar Indosat baik dari dalam ataupun luar negeri. Dijelaskannya, selain Indonesia, cakupan satelit itu bisa mencapai Asia, India, Jepang dan Australia.

Wityasmoro menolak mengungkap besaran investasi yang dikeluarkan. “Kita tidak bisa menyebutkan karena sekarang sedang dilaksanakan tendernya, tapi di antaranya masih diambil dari Capex 2007 (US$ 1 miliar, red),” kilahnya.

Tetapi jika dilihat dari rata-rata peluncuran satelit di Indonesa, satelit ini dapat menghabiskan sekitar US$ 200 juta sampai US$ 300 juta. Sebagai gambaran, Telkom yang juga akan meluncurkan Satelit Telkom 3 di 2009 dengan kapasitas 24 transponder menghabiskan dana sebesar US$ 150 juta.

Jan 10

Detik — Telkom akan tenderkan perangkat penunjang untuk satelit Telkom-3 mulai 2007 ini. Total investasi yang dianggarkan untuk satelit Telkom-3 mencapai US$ 150 juta. Ini disampaikan oleh Kepala Divisi Infrastruktur Telkom, Sarwoto Atmosutarno. “Saat ini, Telkom-3 sedang dalam tahap engineering plan.”

Sarwoto menjelaskan, engineering plan itu meliputi penentuan sistem yang akan digunakan. Hal itu termasuk kapasitas satelit, bahan bakar dan baterai, hingga masa orbit satelit. Ia menambahkan, perusahaan yang biasanya bergerak dalam jasa pembangunan satelit antara lain Lockheed Martin, Alcatel, Orbital, GreatWall, dan Mitsubishi.

Meski demikian, Sarwoto tidak merinci pihak atau perusahaan mana yang akan meluncurkan satelit Telkom-3 tersebut. Peluncuran Telkom-3 rencananya akan digelar awal 2009. Sebelumnya, satelit Telkom-2 telah diluncurkan oleh roket Ariane Space pada November 2005.

Kapasitas Telkom-3, yang rencananya akan berorbit di 118 derajat Bujur Timur, diharapkan mencapai 36 transponder. Menurut Sarwoto kebutuhan Telkom dan anak perusahaan akan jasa satelit meningkat setiap tahunnya. Saat ini, transponder yang ada di Telkom-1 (24 transponder) dan Telkom-2 (24 transponder) semuanya sudah terpakai. Tiap satelit yang dimiliki Telkom memiliki siklus hidup sekitar 15 tahun.