Jan 29

Antara — Ditjen Postel Depkominfo menganggarkan 18 miliar pada 2008 untuk mengembangkan industri pita lebar (broadband) Wimax di Indonesia melalui program penelitian dan pengembangan produk domestik telekomunikasi bekerja sama dengan beberapa lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Dari anggaran itu, 8M digunakan untuk membeli alat ukur penelitian dan software desain yang berlisensi, sementara 10M untuk honor dan biaya operasional.

Konon sebelumnya Ditjen Postel telah mengalokasikan Rp16 miliar yang telah digunakan Rp14 miliar pada 2006 untuk penelitian dan pengembangan teknologi Wimax. Program penelitian dan pengembangan produk domestik telekomunikasi Wimax melibatkan lembaga penelitian, beberapa perguruan tinggi dan industri telekomunikasi; antara lain BPPT dan LIPI dari lembaga penelitian, sementara perguruan tinggi yaitu ITB, UI, UGM, Universitas Hasanudin, dan ITS, serta industri yang cukup dekat Ditjen Postel, yaitu Hariff, INTI, Quasar, dan Solusindo Kreasi Pratama (SKP).

Penelitian pengembangan perangkat sistem radio Wimax ini dibagi menjadi empat kelompok besar yang terdiri dari kurang lebih 40 peneliti, di mana kelompok pertama dengan koordinator dari ITB akan mengembangkan desain chipset baseband dan control, kelompok kedua koordinator dari LIPI akan mengembangkan Radio Frekuensi dan base band, kelompok ketiga dengan koordinator dari UI akan mengembangkan antena untuk base station dan CPE dan kelompok ketiga dengan koordinator ITB akan mengembakan terminasi. Diharapkan sudah ada demo hasil penelitian pada Detiknas pada peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional Mei 2008 ini, dan penelitian benar-benar selesai pada akhir 2008 atau awal 2009. Hasil penelitian diharapkan berupa produk yang berkualitas dan murah yang dapat dikembangkan oleh industri dalam negeri sehingga menjadi produk pilihan operator telekomunikasi.

Pada tahap awal, industri dalam negeri akan mengembangkan perangkat sistem radio Wimax dengan menggunakan chipset produk asing dan tahun ini produk ini sudah dapat dioperasikan, kemudian industri dalam negeri akan mengembangkan perangkat system radio Wimax dengan chipset produksi Indonesia yang dikembangkan melalui penelitian. Produk lokal telekomunikasi ini perlu dikembangkan di Indonesia karena data menunjukkan perkembangan infrastruktur telekomunikasi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dengan belanja modal sekitar Rp40 triliun pada kurun waktu 2004-2005 dan jumlah ini semakin meningkatkan dari tahun ke tahun.  Dari total belanja total belanja infrastruktur telekomunikasi nasional tersebut, kontribusi industri manufaktur nasional hanya tiga persen, dan dari jumlah tiga persen tersebut, yang merupakan produk asli nasional hanya berkisar di angka 0,1 persen - 0,7 persen atau Rp1,2 miliar sampai Rp8,4 miliar.

Apr 26

Rencana pemberian lisensi WiMAX oleh Pemerintah Indonesia ternyata ditanggapi dengan hangat juga oleh para operator selular. Namun mengapa operator yang sudah memiliki lisensi 3G/UMTS ini masih juga punya minat pada WiMAX? Di satu sisi, ini untuk menghambat kompetisi dari teknologi yang memang secara konvergensi akan jadi bersaing ini. Namun, jika dilihat dari sisi positif, para operator memahami bahwa WiMAX merupakan komplemen layanan yang penting bagi 3G/UMTS; khususnya bagi sebagian besar customer yang melakukan akses informasi tidak sambil bergerak.

Tetapi, jika 3G/UMTS dan WiMAX dipegang oleh sebuah entitas, atau sekelompok yang berafiliasi, bagaimana cara agar keduanya benar2 menjadi komplemen, seolah2 menjadi sebuah network lengkap, dengan sistem identitas user yang tunggal, dengan layanan yang kontinu bagi user yang harus berpindah network, dan tanpa terlalu banyak sistem yang redundant?

Mengandaikan bahwa standar 3GPP yang digunakan sudah mengadopsi Release 5 (dengan IMS), akan dapat dilakukan interworking pada service layer kedua macam network. Negosiasi akan tetap menggunakan SIP seperti yang digunakan dalam IMS. Pengelolaan user dengan AAA dilakukan pada infrastuktur UMTS. Skemanya dideskripsikan dalam gambar ini:
interwork-3g-wimax.png
Garis oranye menunjukkan aliran data (media), dan garis biru persinyalan. HSS (home subscriber server) meyimpan informasi user, termasuk autorisasinya, dan profile. AAA, melakukan fungsi autentikasi, autorisasi, dan accounting (charging). Sekelompok CSCF (call session control function) pada struktur IMS berfungsi mengelola sesi informasi.

Persinyalan antara IMS dan WiMAX dilakukan melalui I-CSCF (I=interrogator) ke CSN WiMAX. Pada WiMAX, CSN memainkan urusan QoS, dan ASN memainkan strategi akses. Harus ada pemetaan antara QoS 3GPP dan WiMAX. UMTS mendefinisikan empat kelas QoS: conversational, streaming, interactive, dan background. WiMAX juga mendefinisikan empat kelas: UGS (unsolicited grant service), rt-PS (realtime polling service), nrt-PS (non-realtime polling service), dan BE (best effort). Tinggal dilakukan pemetaan sesuai sifat aplikasi yang ditargetkan di setiap kelas. Resource QoS dapat diberikan baik melalui prekonfigurasi, ataupun dengan reservasi sesuai trigger dari client.

Tentu masih banyak yang harus dipertimbangkan. AAA antar dua network misalnya, termasuk bagi user yang sedang melakukan roaming, harus dipertimbangkan baik dari sisi bisnis maupun dari security. Soal hand-over juga bisa menjadi bahan yang sangat menarik untuk diperincangkan secara terpisah.

(Cat: Copy dari kun.co.ro)

Apr 04

Antara — Cisco System Inc, meluncurkan produk interkoneksi canggih Cisco IP Interoperability Collaboration System (IPICS) 2.0 yang mampu menggabungkan koneksi berbagai perangkat komunikasi ke dalam satu jaringan internet. Managing Director Cisco System Indonesia, Irfan Setiaputra kepada wartawan di Jakarta pada Rabu menyatakan, dengan perangkat itu pengguna dapat menggabungkan koneksi antara pesawat telepon PSTN (Public Switched Telephone Network), Land Mobile Radio (LMR), telepon seluler, komputer, dan Handy Talkie Push To Talk (HTPTT).

Jika sebelumnya, HT terisolir karena pengkotakkan perangkat komunikasi, dengan IPICS 2.0 antar perangkat seperti radio, IP Phone, telepon mobile atau komputer yang sudah dilengkapi software Cisco Pust To Talk Management Center (PMC) dapat diinterkoneksikan sehingga komunikasi antar lingkuangan kantor dan di lapangan semakin tidak terbatas. “Solusi ini menegaskan posisi jaringan menjadi platform. Interoperabilitas antar jenis perangkat komunikasi yang berbeda kini dapat teratasi sekaligus memberikan penghematan biaya komunikasi. Hanya menggunakan satu perangkat komunikasi, kita dapat berkomunikasi tanpa dibatasi lokasi dan tipe jaringan yang dipakai,” kata Irfan.

Cross Industry Director Cisco System Indonesia, Budi Santoso, menambahkan, permasalahan yang dihadapi oleh pengguna HT adalah mempunyai channel atau frekuensi yang berbeda, area yang terbatas, dan bisa tidak dapat berkomunikasi dengan HT yang berbeda merk. “Kondisi geografis Indonesia yang unik memerlukan solusi komunikasi yang efektif dan efisien dalam biaya. Cisco IPICS 2.0 memungkinkan pesawat radio di satu pulau dengan pulau yang lain dapat saling terhubung bahkan dalam channel yang berbeda. Mereka yang bertugas di pedalaman, di hutan dan di tengah lautan, komunikasi menjadi semakin mudah,” kata Budi. IPICS cocok digunakan oleh institusi yang kerap menggunakan HT untuk bekerja, misalnya instansi pemerintah seperti tentara, kepolisian dan paramedis, serta perusahaaan lapangan seperti pertambangan, perminyakan dan gas, serta perusahaan jasa pengamanan/sekuriti.

Komponen-komponen IPICS adalah Cisco IPICS Server Hardware, IPICS Server Software, IPICS Policy Manager, IPICS Dial Ports, Channel/Radio Ports, Virtual Talk Group (VTG) Ports. PMC (Push To Talk Management Center) dan IP Phone PTT Service. “Semua komponen IPICS tersebut dapat dibeli satu paket atau beberapa komponen yang optional (pilihan). Bisa dibeli terpisah,” lanjut Budi sambil menambahkan harga satu paket IPICS 2.0 kurang lebih 55.100 dolar Amerika.

Pengoperasian IPICS ini diatur oleh IPICS Server yang telah diinstal dengan IPICS Software dan disambungkan dengan komputer yang terkoneksi dengan internet. Komputer tersebut akan difungsikan sebagai pengatur (dispetcher) traffic komunikasi antar pesawat seperti PSTN, Ponsel, dan HT. Komputer tersebut dapat mengatur chanelling tiap pesawat komunikasi, tetapi tidak dapat mengatur setting frekuensi, karena setting frekuensi tersebut dilakukan di pesawat HT.

Feb 20

Detik. Pemerintah Indonesia mengalokasikan dana sebesar Rp 15 miliar untuk pengembangan perangkat akses komunikasi data nirkabel pita lebar (broadband wireless access/BWA), atau kerap pula dikenal sebagai WiMAX. Dana riset ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tujuannya adalah untuk mendorong penyediaan perangkat BWA oleh indusri dalam negeri.

Dana Riset WiMAX tersebut akan diberikan kepada Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai pendukung unsur riset. Hasil riset itu diharapkan akan diproduksi secara massal oleh swasta yang kemudian akan dipaketkan ke dalam suatu produk BWA.

Sebelumnya, pemerintah menunda setahun tender BWA di pita 2,3 GHz dengan rentang frekuensi 90 MHz untuk enam operator di 17 kota. Namun, tender tetap akan digelar tahun ini untuk satu operator dengan frekuensi 15MHz dengan alasan untuk melindungi industri dalam negeri untuk maju terlebih dahulu, salah satunya dengan mendorong ITB dan LIPI untuk memproduksi perangkat BWA tersebut.

Feb 19

Tempo — Cisco Systems mengumumkan peluncuran solusi optimalisasi IP Radio Access Network (RAN). Solusi RAN ini merupakan solusi terbuka sehingga dapat digunakan berbagai vendor yang memanfaatkan IP (protokol internet) untuk meningkatkan efisiensi jaringan, menekan biaya dan mempercepat penawaran layanan bergerak novatif ke pasar.

Dengan mengimplementasikan solusi optimalisasi RAN berbasis IP dari Cisco, operator yang menggunakan jaringan GSM dan UMTS dapat mengurangi lalu-lintas backhaul-nya sampai 50 persen. Kelebihan solusi RAN ini menghasilkan biaya backhaul lebih rendah dan peningkatan kapasitas untuk menggelar layanan-layanan baru.

Disebabkan oleh sifatnya yang fleksibel, solusi optimalisasi IP RAN dari Cisco dapat memenuhi empat kebutuhan operator bergerak. Pertama, dengan memanfaatkan IP guna mengoptimalkan dan mengagregasi campuran lalu-lintas seluler berbagai generasi sehingga dapat menurunkan biaya-biaya backhaul, solusi pengoptimalan IP RAN dari Cisco mengurangi biaya operasi dalam jaringan GSM dan UMTS.

Kedua, sistem penghantaran yang efisien dapat mendukung layanan data dan suara di jaringan berpita-lebar 2G (GPRS, EDGE) dan 3G (UMTS, HDSPA) tanpa harus menambah multiple T1/E1 lines.

Ketiga, juga mendukung alternatif sistem penghantaran lainnya yang berkapasitas lebih tinggi dan rendah biaya, seperti Metro Ethernet, WiMax dan DSL, yang cocok untuk lalu-lintas data berbasis packet dengan bandwidth tinggi seperti HSDPA.

Keempat, memungkinkan operator mobile untuk menciptakan arus pendapatan baru dengan menawarkan layanan inovatif berbasis IP, seperti tayangan video dan IP telephony, menggunakan lingkungan Base Transceiver Station (BTS) yang diperlakukan sebagai IP point of presence.

Dec 14

IEEE telah mengesahkan standar 802.16e. Standar yang juga dikenal dengan 802.16-2005 ini resmi boleh dipakai untuk WiMAX mobile. Berita peresmian itu saja disambut hangat oleh berbagai vendor perangkat. Terlebih Motorola yang saat ini berhak menjadi jawara standar 802.16e. Motorola yakin bahwa pasar akses nirkabel broadband mobile akan jauh melampaui pasar fixed.

Motorola menyatakan akan mengapalkan 802.16e kit pada pertengahan 2006 mendatang, dan tak lagi menjajakan produk 802.16d. Dengan begitu, Motorola bisa mempercepat pengintegrasian teknologi WiBro yang dikembangkan Korea ke dalam versi mobile WiMAX dan membuatnya kompatibel dengan versi fixed-wireless.

Sementara itu, Alcatel juga dipastikan akan mendapat tempat untuk WiMAX mobile. Alcatel mengungkap bahwa pihaknya telah menjalin kerjasama dengan manufaktur KT Korea. Kerjasama ini dilakukan untuk bersama-sama memastikan interoperabilitas antara teknologi WiBro Korea dan standar 802.16e. Bahkan kedua perusahaan tersebut memutuskan untuk mendirikan pusat penelitian di Seoul untuk mengarahkan uji coba interoperabilitas infrastruktur WiMAX dengan perangkat mobile. Selain itu, mereka berharap bisa mengembangkan aplikasi broadband mobile baru untuk mengeksploitasi pasar WiMAX mobile di seluruh dunia.